Perjalanan Singkat Menuju Gunung Prau

Gunung Prau

Kegiatan yang dilakukan secara rutin pada dasarnya akan membuat si penggiat merasa jenuh dan bosan, itulah hal yang saya rasakan beberapa waktu lalu sebelum memutuskan untuk berlibur dan meninggalkan rutinitas di Jakarta. Setelah menentukan hari dan tanggal yang pas, saya langsung mengajukan cuti untuk beberapa hari kedepan. Melalui pesan singkat, saya mengajak beberapa teman untuk mendaki Gunung, dua dari beberapa teman saya pun mengiyakan ajakan tersebut. Setelah perbincangan yang singkat, kami berencana untuk mendaki Gunung Pangrango di Bogor, namun dikarenakan cuaca pada saat itu kurang mendukung, akhirnya kami memutuskan untuk beralih ke Gunung Prau di Wonosobo. Kami memilih Gunung Prau sebagai destinasi pendakian karena rutenya yang singkat dan memiliki ketinggian 2.565 mdpl.

Perjalanan Menuju Wonosobo

Jadwal Keberangkatan Bus Terminal Baranangsiang Bogor

Perjalanan menuju Wonosobo dimulai pada hari kamis sore, karena kami berdomisili di kota Bogor maka kami memulai perjalanan menggunakan Bus dari Terminal Baranangsiang Bogor dengan rute perjalanan Bogor – Wonosobo. Jadwal keberangkatan Bus sangat terbatas, hanya ada di sore hari pukul 16:00 WIB. Disarankan agar datang 30 menit lebih awal karena keberangkatan Bus sangat on-time, saran tersebut saya utarakan berdasarkan pengalaman pribadi, hampir tidak jadi berangkat karena salah satu teman terjebak macet dan belum sampai ke terminal hingga mendekati detik-detik Bus akan diberangkatkan. Sekedar informasi, pihak agen Bus tidak akan menerima uang pembayaran jika penumpang belum ada di tempat, detik-detik menegangkan pun sudah terlewati dan berganti dengan suasana Bus yang cukup cozy. Saya tertidur pulas di tengah perjalanan dan terbangun di pemberhentian Bus untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan seperti Gesang saat menyanyikan lagu Bengawan Solo, salah satu lagu legendaris Indonesia yang saya suka. Kembali ke topik pembahasan, Bus kembali memulai perjalanan setelah isi perut penumpangnya sudah terpenuhi, seakan ingin cepat sampai ke tempat tujuan, saya pun kembali tertidur di sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Wonosobo

Perjalanan Menuju Basecamp Patak Banteng

Bagi saya, Wonosobo merupakan wilayah yang cuacanya tidak jauh berbeda dengan Bogor, dapat saya simpulkan bahwa Wonosobo merupakan daerah yang sejuk. Setelah menempuh waktu kurang lebih 11 jam perjalanan, sekitar pukul 03:00 WIB Bus yang kami tumpangi pun berhenti di pemberhentian terakhir, yaitu Terminal Mendolo Wonosobo. Namun perjalanan kami tidak berhenti sampai disitu, setelah beristirahat kurang lebih 1 jam di Terminal Mendolo untuk sekedar mengganjal perut dengan pisang goreng hangat dan secangkir kopi, kami masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan Minibus ke Basecamp Patak Banteng. Pukul 04:00 WIB, kami pun segera bergegas setelah ada salah satu supir Minibus menawarkan diri untuk mengantar kami dan rombongan lainnya ke Patak Banteng dengan tarif yang pas. Dalam waktu kurang lebih 1,5 jam dari terminal Mendolo, Sekitar pukul 05:30 WIB kami sudah sampai di Desa Patak Banteng dan menumpang di salah satu rumah warga yang jaraknya tidak jauh dari Basecamp Patak Banteng untuk beristirahat dan menunggu sampai Basecamp Patak Banteng membuka pendaftaran untuk mengurus simaksi.

Saatnya Memulai Pendakian

Basecamp Patak Banteng

Kabut tebal menemani perjalanan kami kali ini, bagi kami kabut bukanlah halangan dan alasan untuk bermalas-malasan. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 09:00 WIB dan kami segera bergegas menuju basecamp untuk mengurus simaksi, sambil mengisi data-data pada secarik kertas, petugas menjelaskan peraturan pendakian, seperti larangan menggunakan alat pengeras suara, larangan membuat api unggun, larangan meninggalkan sampah, dan salah satu yang paling ditegaskan adalah larangan membawa tisu basah, alasannya karena semakin banyak pendaki tidak bertanggungjawab yang meninggalkan sampah tisu basah tanpa membawanya turun kembali, selain mencemari lingkungan, tisu basah merupakan sampah yang sangat sulit terurai, dan poin pentingnya adalah “Gunung bukan tempat sampah”. Setelah selesai briefing dan mengurus simaksi, sekitar pukul 10:00 WIB kami bergegas melanjutkan perjalanan karena kabut sudah mulai turun dan semakin menebal setebal buku Wikipedia yang memiliki 5.000 halaman karya Rob Matthews, agak sedikit hiperbola memang, dan benar saja dipertengahan jalan menuju Pos 3 hujan pun turun dengan deras, kami pun segera memakai raincoat agar derasnya air hujan tidak membasahi kami. Sangat disayangkan ketika hujan turun ada sepasang muda mudi yang tidak membawa raincoat, padahal ketika mendaki Gunung, keamanan dan keselamatan merupakan hal yang terpenting. Tak lama hujan turun, tak terasa pemandangan camping ground sudah mulai terlihat di depan mata, hanya ada beberapa tenda saja di jam pada saat kami sampai sekitar pukul 13:00 WIB, perjalanan berlangsung sekitar 3 jam dari basecamp sampai ke camping ground. Dengan sigap kami segera mendirikan tenda, setelah tenda selesai didirikan, selanjutnya kami mengganti pakaian yang rasanya sudah tidak karuan, setelah badan kembali hangat dan bersih, kami memasak untuk makan siang. Ketika perut sudah dimanjakan dengan makan siang maka sang mata pun tak kuasa untuk menahan rasa kantuk, saat terbangun dan melihat keluar tenda ternyata area camping ground sudah dipenuhi oleh warna warni tenda berbagai macam merk.

Matahari Terbit

Sunrise di Gunung Prau

Maksud hati ingin melihat Matahari terbit di atas ketinggian Gunung Prau secara langsung dan seindah mungkin namun lagi-lagi kabut menghampiri dan menutup kembali pemandangan yang hanya berlangsung sekitar 5-10 menit saja, tetap saya syukuri walaupun hanya sesaat. Tak lama kabut menghampiri, Sekitar pukul 06:30 WIB kami mulai memasak untuk sarapan pagi dan setelah itu bergegas turun, sekitar pukul 09:00 WIB perjalanan turun dimulai dan tentunya waktu sangat terasa cepat, setibanya di basecamp sekitar pukul 11:30 WIB, kami membuang sampah yang kami bawa turun pada tempatnya terlebih dahulu, kemudian kami menumpang di salah satu rumah warga untuk istirahat, mandi, sholat dan makan. Tak terasa hari sudah semakin siang dan menunjukan pukul 13:00 WIB. Kami pun teringat bahwa kami harus melanjutkan perjalanan ke Purwokerto.

Waktunya Pulang

Stasiun Purwokerto

Tujuan utama dari pendakian bukanlah puncak melainkan pulang ke rumah dengan selamat, begitulah kata-kata yang sudah tersebar di dunia pendakian. Karena kami memutuskan pulang menggunakan Kereta dari Purwokerto ke Jakarta, kami pun teringat dengan informasi Minibus terakhir dari Terminal Mendolo menuju Terminal Purwokerto hanya sampai pukul 17:00 WIB, entah benar atau tidak, kami tetap menelan mentah-mentah informasi tersebut. Perjalanan dari Patak Banteng ke Terminal Mendolo dimulai pada pukul 13:00 WIB dengan menumpang Minibus yang sudah tersedia tidak jauh dari area basecamp, setibanya di Terminal Mendolo, waktu menunjukan pukul 15:00 WIB, tak lama kemudian Minibus menuju Terminal Purwokerto datang dan kami segera menumpangi Minibus tersebut. Sekitar 3 jam berlalu dan kami sampai di Terminal Purwokerto pada pukul 18:00 WIB. Taxi online selanjutnya menjadi pilihan untuk menuju ke Stasiun Purwokerto yang memiliki jarak waktu sekitar 5-10 menit, karena kami memesan tiket Kereta untuk esok pagi pukul 06:30 WIB maka kami pun harus bermalam di Stasiun Purwokerto. Akan lebih praktis rasanya jika kami menggunakan Bus untuk perjalanan pulang, namun menggunakan Kereta untuk perjalanan pulang merupakan kesepakatan bersama, jadi kami sangat menikmati setiap perjalanannya. Sekitar 11 jam perjalanan menggunakan Kereta sudah kami lalui, Stasiun Jatinegara menjadi pilihan pemberhentian kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Bogor.

Rincian Biaya Perjalanan Bogor – Gunung Prau

Rincian Biaya Perorang

Kesan dan Pesan

Gunung Prau bagi saya adalah gunung yang menyenangkan dan sangat cantik tentunya, banyak jalur yang bisa dilalui untuk mendaki Gunung Prau, alasan memilih Patak Banteng karena jalurnya yang singkat.

Jangan takut tersesat jika ingin mengunjungi tempat baru.

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.

Lao Tzu

Koleksi Foto

Jalur Pendakian
Basecamp
Kucing di Camping Ground
Desa Patak Banteng
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai